Home / Blog / Prinsip Akuntansi dalam Perhitungan Zakat

Prinsip Akuntansi dalam Perhitungan Zakat

Dana zakat perlu mendapatkan perlakukan pencatatatn khusus dalam sistem akuntansi. Hal ini salah satunya mengacu pada The National Council on Governmental Accounting (NCGA). Tujuan dari akuntansi Zakat mengacu pada standar AAS-IFI (Accounting & Auditing Standard for Islamic Financial Institution) adalah menyajikan informasi mengenai ketaatan organisasi terhadap ketentuan syari’ah Islam, termasuk informasi mengenai penerimaan dan pengeluaran yang tidak di perbolehkan oleh syari’ah, serta bagaimana penyalurannya. Berdasarkan tujuan tersebut maka memperlihatkan betapa pentingnya peran Dewan Syari’ah (mengeluarkan opini syariah). Dalam hal ini  Transaksi Zakat disini meliputi transaksi Zakat, Infaq dan Sodaqoh dengan prinsip pencatatan sebagai berikut:

1. Dana Zakat : Dana ini secara prinsip merupakan dana kepercayaan (trust and agency) dari pembayar zakat. Perlakuannya adalah terbatas, artinya dibatasi dari sisi yang mengeluarkan zakat (muzaki) sesuai dengan nishab dan haul (periode) , dan juga dibatasi dalam penyaluran (mustahiq) khusus kepada asnaf yang telah ditetapkan oleh syariah (ada 8 asnaf)

2. Dana Sodaqoh: Dana ini dicatat dalam sistem akuntansi sebagai General Funds (dana umum) karena tidak ada batasan apapun baik jumlah dana yang diberikan maupun untuk siapa dana tersebut digunakan. Dana ini juga dikenal dengan istilah dana yang tidak terbatas (unrestricted funds) dalam pencatatan akuntansi.

3. Dana Infaq : Dana ini sudah jelas akadanya di awal untuk tujuan tertentu atau kepada penerima tertentu. Jika sudah jelas lembaga penyalurnya maka maka dana infaq dan sodaqoh dapat disatukan menjadi dana Infaq/Sodaqoh. Pihak pengelola yang melakukan pencatatan akuntansi juga harus memiliki program untuk apa dana ini di salurkan, sehingga memudahkan dalam dalam membuat chart of account (kode pencatatan akuntansi) yaitu dana infak/sodaqoh

4. Sodaqoh dalam bentuk barang misalnya tanah, bangunan dan sebagainya baik dengan akad Wakaf atau Hibah maka dalam akuntansi harus dicatat secara riil nilainya sesuai dengan harga pasar atau harga perolehan yang disetujui pemberi sodaqoh. Tidak perlu dilakukan perhitungan penyusutan, mengingat belum ada peraturan baku untuk akuntansi Zakat.

5. Dana Amil dari Zakat ditetapkan sebesar 12.5% Oleh Dewan Syariah sedangkan Dana Amil dari Shodaqoh ditetapkan 12.5%, Oleh Dewan Syariah

6. Sistem pencatatan akuntansi zakat akan menghasilkan laporan keuangan dalam bentuk laporan sumber dan penggunaan dana ZIS, dan laporan neraca (posisi Keuangan). Jenis-jenis laporan akuntansi zakat meliputi : Laporan Neraca/Posisi Keuangan, Laporan Aktivitas atau Sumber dan Penggunaan Dana, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan keuangan.

Sistem akuntansi zakat harus memperhatikan beberapa hal penting berikut ini:

  • Setiap penerimaan dan pengeluaran harus di ketahui termasuk jenis dana apa
  • Setiap penyaluran dana yang ada harus sesuai dengan ketentuan Syari’ah
  • Setiap jenis dana yang ada harus dapat di ketahui
  • Jika zakat di terima dalam bentuk barang maka prinsip akutansi menghendaki barang tersebut di nilai dalam rupiah sesuai dengan nilai pasarnya (jika di ketahui) atau nilai taksirannya.

Berdasarkan penjelasan tersebut diatas maka akuntansi dalam perspektif Islam memiliki prinsip penting yaitu ditujukan untuk orang-orang beriman, dilakukan pencatatan transaksi secara rinci, tidak boleh malas dalam melakukan pencatatan (prinsip asal percaya saja), transaksi harus ada saksi (bukti), berlandaskan pada taqwa, kejujuran dan amanah. Selain itu pencatatan dan transaksi juga harus memiliki sistem internal control (Sistem Pengendalian Intern) untuk menjamin pentingnya transparansi, asas keadilan dan dilakukan oleh profesional dibidangnya. Ingat, bahwa Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu yang dilakukan oleh umat manusia.

Banyak Berbagi Banyak Rejeki Banyak Berbagi Banyak Rejeki

About wahyudi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.