Home / Blog / Koreksi Fiskal

Koreksi Fiskal

Kalau membicarakan mengenai pajak pasti akan banyak sekali yang harus dipahami dan dimengerti. Apalagi sekarang ini semuanya harus dilaporkan ke ditjen pajak. Setelah tax amesty kemaren bukan berarti semuanya berakhir.  

Tapi disini saya tidak akan membahas mengenai tax amesty kemaren, atau apa yang harus dilakukan setelah tax amesty. Saya akan membahas mengenai koreksi fiskal. Mengapa saya membahas ini. Karena dalam minggu ini sudah lebih dari 9 orang yang menanyakan mengenai apa pengertian dan fungsi dari koreksi fiskal itu.  

Ini membuat saya gatal rasanya untuk tidak menulis artikel mengenai koreksi fiskal. Pengertian dan koreksi fiskal sendiri adalah koreksi atau penyesuaian yang harus dilakukan oleh wajib pajak sebelum menghitung Pajak Penghasilan (PPh) bagi wajib pajak badan dan wajib pajak orang pribadi (yang menggunakan pembukuan dalam menghitung penghasilan kena pajak).

Koreksi fiskal itu sendiri terjadi sehubungan dengan adanya perbedaan antara (laba/rugi) menurut perhitungan akuntansi komersial dengan akuntansi fiskal (berdasarkan Undang-Undang nomor 10 tahun 1994 jo Undang-Undang nomor 17 tahun 2000), maka sebelum menghitung pajak penghasilan yang terutang, terlebih dahulu laba/rugi komersial tersebut harus dilakukan koreksi-koreksi fiskal sesuai Undang-Undang nomor 17 tahun 2000.

Dengan demikian untuk keperluan perpajakan wajib pajak tidak perlu membuat pembukuan ganda, melainkan cukup membuat satu pembukuan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK), dan pada waktu mengisi SPT Tahunan PPh terlebih dahulu harus dilakukan koreksi-koreksi fiscal.

Koreksi fiskal tersebut dilakukan baik terhadap penghasilan maupun terhadap biaya-biaya (pengurangan penghasilan bruto).

Koreksi fiskal terjadi karena adanya perbedaan perlakuan/pengakuan penghasilan maupun biaya antara akuntansi komersial dengan akuntansi pajak. Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Beda tetap.

Yaitu penghasilan dan biaya yang diakui dalam penghitungan laba neto untuk akuntansi komersial tetapi tidak diakui dalam penghitungan akuntansi pajak.

Contoh penghasilan : sumbangan, Penghasilan bunga deposito.

Contoh biaya            : biaya sumbangan, biaya sanksi perpajakan.

2. Beda waktu

Yaitu penghasilan dan biaya yang dapat diakui saat ini oleh akuntansi komersial atau sebaliknya, tetapi tidak dapat diakui sekaligus oleh akuntansi pajak, biasanya karena perbedaan metode pengakuan.

Contoh penghasilan : pendapatan laba selisih kurs

Contoh biaya         : biaya penyusutan, biaya sewa, Metode penilaian persediaan, Penyisihan piutang tak tertagih dll.

Jenis koreksi fiskal sendiri sebagai berikut :

  • Koreksi fiskal positif yaitu koreksi fiskal yang menyebabkan penambahan penghasilan kena pajak dan PPh terutang. Contoh : Biaya PPh
  • Koreksi fiskal Negatif yaitu koreksi yang menyebabkan pengurangan penghasilan kena pajak dan PPh terutang. Contoh : Penghasilan bunga deposito.

Sekian artikel mengenai ”Koreksi Fiskal”  Semoga Artikel ini dapat bermanfaat untuk Anda. Terima Kasih. Salam Let’s #beefree

Banyak Berbagi Banyak Rejeki Banyak Berbagi Banyak Rejeki

About Venny Jasmine

Baik dan Tidaknya Sesuatu itu Tergantung pada Persepsi Anda