Home / Blog / Jenis-jenis Pajak yang Harus Dibayar Pengusaha Bisnis Properti

Jenis-jenis Pajak yang Harus Dibayar Pengusaha Bisnis Properti

Bagi Anda yang ingin memulai usaha di bidang properti, pemahaman akan aturan pajak penting untuk dilakukan. Hal ini tentu saja akan masuk dalam komponen perhitungan harga jual beli properti, agar keuntungan yang didapatkan bisa sesuai harapan. Pemahaman yang salah akan membuat bisnis Anda justru rugi karena ada pajak yang jumlahnya lumayan besar tapi tidak Anda perhitungkan.
Dalam transaksi jual-beli properti subjek pajak terdiri dari penjual dan pembeli, sedangkan objek pajak adalah properti itu sendiri. Penjual sebagai penerima uang kena pajak sedangkan pembeli sebagai penerima barang juga kena pajak. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat ulasan berikut ini:

Pajak untuk Pengusaha (Penjual) Properti

Pajak Penghasilan (PPh) Final

PPh Final dikenakan karena adanya Pengalihan Hak Atas Tanah & Bangunan dengan besaran tarif PPh adalah 2,5 % dari Nilai Peralihan ÷ Nilai Transaksi. Misalnya pengusaha properti menjual rumah seharga 2,5 milyar rupiah, maka besarnya PPh final adalah sebesar: 62,5 juta rupiah, hasil perhitungan 2,5% x 2,5 milyar rupiah.

Pajak Bumi Bangunan (PBB)

PBB dipungut karena adanya keuntungan dari orang yang mempunyai tanah dan bangunan tersebut dengan besaran yang berbeda-beda tergantung lokasi dan bisa dilihat di Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan (SPPT PBB) dan dibayarkan setahun sekali. Komponen yang tertera dalam SPPT PBB adalah Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) dan NJOP Tidak Kena Pajak. Misalnya saja pemilik properti memiliki properti dengan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) :  2.049.175.000, NJOP Tidak Kena Pajak (NJOP TKP) : 15.000.000, NJOP untuk perhitungan PBB : 2.030.175.000 maka PBB yang terutang adalah 0.2 % x 2.030.175.000 = 4.060.350.

Pajak untuk Pembeli Properti

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Pajak ini dikenakan untuk setiap pertambahan nilai dari barang atau jasa atas peredarannya dari produsen ke konsumen. Pajak ini dipungut penjual (Jika terdaftar sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) untuk disetorkan ke Negara yang besarnya adalah 10 % dari Nilai Peralihan. PPN berlaku untuk jual beli rumah baru (termasuk yang dijual pengembang ke konsumen) dan tidak berlaku untuk jual beli rumah seken.

Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM)

PPnBM khusus berlaku untuk barang mewah, sedangkan di bidang properti, PPnBM hanya berlaku untuk primary product (jaul rumah dari developer ke konsumen) dan tidak berlaku antar individu yang besarnya ditetapkan 20 % dari Nilai Transaksi. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 206/PMK.010/2015, mengatur properti yang digolongkan barang mewah yaitu apabila harganya mencapai 20 milyar rupiah untuk rumah tapak dan 10 milyar rupiah untuk apartemen.

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

BPHTB dikenakan sebagai akibat diperolehnya hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan yang besarnya adalah 5% dari Nilai Transaksi. Besaran pajak tersebut dikenakan untuk Nilai Transaksi yang sudah dikurangi terlebih dahulu dengan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP). Jadi misalnya besarnya NPOPTKP besarnya 60 juta,s edangkan rumah dijual dengan harga 150 juta, maka besarnya BPHTB adalah 5% x (150 juta – 60 juta) = 4,5 juta rupiah.

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)

PNBP pada bidang properti dilakukan ketika pengajuan permohonan balik nama sertifikat di Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang besarnya ditetapkan sebesar (0,1 % x Zona Nilai Tanah) + 50.000. Besarnya Zona Nilai Tanah (ZNT) ditetapkan oleh Kementrian Agraria dan Tata Ruang/BPN yang menggambarkan nilai tanah yang relatif sama atas sekumpulan bidang tanah yang ada di dalamnya.

BBN (Bea Balik Nama)

BBN pada bidang properti dikenakan kepada pembeli untuk proses balik nama sertifikat properti saat terjadi pembelian dari penjual. Jika beli dari developer biasanya sudah dihitung diawal dan di urus oleh developer, sedangkan untuk transaksi perorangan bisa diurus sendiri atau oleh notaris. Besarnya BBN rata-rata sekitar 2% dari nilai transaksi yang besarnya tiap daerah bisa saja berbeda.

Bagi Anda yang terjun dalam dunia bisnis properti, perhitungan pajak diatas penting untuk dipahami dengan baik agar usaha Anda bisa berjalan lancar.

Banyak Berbagi Banyak Rejeki Banyak Berbagi Banyak Rejeki

About wahyudi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.