Home / Blog / Cara Menghitung Tunjangan Hari Raya untuk Pekerja Harian dan Contohnya

Cara Menghitung Tunjangan Hari Raya untuk Pekerja Harian dan Contohnya

Kapankah Hari raya Idul Fitri untuk tahun 2018 ini? Pasti semua sudah mengetahuinya. Tepatnya di tanggal 14–15 Juni 2018 nanti. Hari Raya idul fitri merupakan waktu yang ditunggu-tunggu oleh sebagaian besar pekerja muslim.

Karena menjelang hari Raya selain mendapat libur yang cukup panjang, mudik ke kampung halaman, karyawan juga mendapat tambahan uang berupa THR. Apa sih THR itu? Siapa saja yang berhak mendapatkanya? Serta bagaimana ketentuan THR untuk pekerja harian? Berikut penjelasannya.

Pengertian Tunjangan Hari raya (THR)

Di Indonesia, Tunjangan Hari raya (THR) telah diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan transmigrasi no. 6 tahun 2016. Dalam Permen tersebut dijelaskan bahwa THR merupakan pendapatan non upah yang wajib dibayarkan oleh perusahaan kepada buruh/pegawai/pekerja menjelang Hari Raya Keagamaan.

Untuk Muslim, Hari Raya yang dimaksud adalah Hari raya Idul Fitri. Sedangkan untuk Kristen Katolik dan Protestan Hari Rayanya adalah Natal. Nyepi untuk umat Hindu, Waisak untuk umat Budha, dan Imlek untuk umat Konghucu. THR diberikan kepada buruh/pegawai/pekerja yang telah bekerja minimal satu bulan secara terus–menerus atau lebih.

Itu peraturan terbaru yang berbeda dengan peraturan sebelumnya. Dan seorang pengusaha wajib memberikan THR kepada pekerja karena memiliki hubungan kerja dengannya. Hubungan kerja tersebut baik berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT) ataupun perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT).

Termasuk didalamnya adalah pekerja harian lepas. Selanjutnya, Besaran THR untuk pekerja harian lepas yaitu sebesar rata-rata upah yang diterimanya per bulan. Itu berlaku jika masa kerjanya telah mencapai satu tahun atau lebih.

Sedangkan jika masa kerjanya belum mencapai satu tahun, maka perhitungannya berdasarkan rata-rata upah yang diterimanya tiap bulan selama masa kerja. Dan apabila masa kerjanya kurang dari satu bulan, maka pekerja tersebut tidak berhak mendapatkan THR.

Contoh Penghitungan THR Untuk Pekerja Harian

Sebagai contoh, pak Joni bekerja dari tanggal 5 Juni 2017 sebagai tenaga harian. Dia menerima gaji setiap dua minggu sebesar Rp 1.000.000, jadi tanggal 16 Juni 2017 dia gajian. Hari Raya Idul Fitri jatuh pada tanggal 26 Juni 2017. Maka sesuai dengan ketentuan, pak Joni tidak mendapatkan THR

Beda dengan pak Amir yang juga bekerja sebagai tenaga harian dari tanggal 1 Mei 2017. Juga sama menerima gaji setiap dua minggu sebesar Rp 1.000.000. Bila ditotal selama satu bulan pak Amir akan menerima Rp 2.000.000. Maka untuk Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada tanggal 26 Juni 2017 dia berhak atas THR sebesar Rp 2.000.000

Lain lagi dengan pak Iwan. Dia juga sebagai pekerja lepas selama 12 bulan dengan gaji per bulan sebagai berikut :

Bulan Besaran gaji
Juli 2016 Rp 2.000.000
Agustus 2016 Rp 3.000.000
September 2016 Rp 2.500.000
Oktober 2016 Rp 2.000.000
November 2016 Rp 2.500.000
Desember 2016 Rp 2.000.000
Januari 2017 Rp 3.000.000
Februari 2017 Rp 2.500.000
Maret 2017 Rp 2.000.000
April 2017 Rp 3.000.000
Mei 2017 Rp 2.000.000
Juni 2017 Rp 3.500.000

Rata-rata gaji yang diterimanya dalam 12 bulan tersebut yaitu Rp 2.500.000. Maka sebelum Hari Raya Idul Fitri 26 Juni 2017, dia berhak menerima THR Rp 2.500.000.

Besaran THR memang sudah di tetapkan pemerintah. Namun dalam kenyataannya, masih ada perusahaan yang berbaik hati memberikan uang THR lebih dari ketetapan. Bahkan ada juga pemilik usaha yang memberikan THR kepada pekerja meskipun belum genap satu bulan. Teragntung dari kebijakan masing-masing perusahaan.

Itulah pembahasan tentang cara menghitung tunjangan hari raya untuk pekerja harian dan contohnya. Jika Anda rasa artikel ini bermanfaat, maka jangan lupa membagikannya kepada pembaca yang lain. Berbagi itu indah. Salam Let’s #beefree

Banyak Berbagi Banyak Rejeki Banyak Berbagi Banyak Rejeki

About wahyudi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.