Home / Blog / Bebas dari Hutang dan Jadikan Aset

Bebas dari Hutang dan Jadikan Aset

Dalam berbisnis, Anda tentu akan tergoda untuk berutang dengan tujuan mengembangkan usaha Anda. Tenang, Anda jangan takut berhutang jika keperluannya untuk berbisnis. Hutang bukanlah sesuatu yang buruk bila dilakukan dengan cara yang tepat. Utang adalah sesuatu yang buruk jika tidak mengetahui perbedaan utang baik dengan utang buruk, tidak mampu mengatasi utang buruk dan tidak dapat membedakan liabilitas dengan aset. Kemampuan mengatasi utang buruk dan memahami perbedaan-perbedaan tersebut dapat mengubah utang menjadi aset. Caranya :

A. Memahami perbedaan utang baik dengan utang buruk

Utang baik adalah utang yang terjangkau angsurannya dan angsurannya dibayarkan oleh orang lain, sedangkan utang buruk adalah utang yang tidak terjangkau angsurannya dan dibayar dari aset pemiliknya. Utang baik dipergunakan untuk keperluan produktif yang mendatangkan penghasilan, sedangkan utang buruk adalah utang yang dipergunakan untuk keperluan konsumtif yang tidak mendatangkan penghasilan atau pemasukan.  

Utang baik akan terjangkau angsurannya karena besar angsurannya hanya sepersekian dari penghasilan kita atau biasanya kurang dari sepertiga penghasilan kita. Ketepatan dalam menentukan besar angsuran akan menentukan kelancaran dalam membayar atau melunasi pinjaman.

B. Mengatasi utang buruk

Jangan pernah menjadikan hutang Anda tidak produktif. Utang baik dilakukan untuk keperluan produktif, misalnya membeli barang-barang produktif seperti rumah dan tanah untuk dikontrakan, mobil atau sepeda motor untuk disewakan, alat-alat elektronik atau alat-alat rumah tangga untuk usaha rental dan sebagainya. Barang-barang produktif tersebut akan mendatangkan penghasilan dalam bentuk uang sewa. Semakin banyak barang produktif yang dimiliki akan semakin banyak mendatangkan aset.

Utang buruk dipergunakan untuk keperluan konsumtif yang tidak mendatangkan pemasukan. Utang untuk membeli rumah besar guna mengganti rumah yang selama ini ditempatinya atau utang untuk membeli mobil mewah guna mengganti mobil atau sepeda motor yang selama ini dikendarainya adalah contoh utang buruk yang sering dilakukan orang. Kepemilikan barang-barang tersebut tidak mendatangkan pemasukan tetapi malah memperbesar pengeluaran yang dipastikan akan mengurangi aset yang kita miliki.

C. Memahami perbedaan liabilitas dengan aset

Seringkali orang menyamakan liabilitas (liability) dengan aset (assets) karena utang nampak seolah-olah sebagai aset. Sesungguhnya kedua hal itu sangat berbeda, karena utang adalah liabilitas yang mendatangkan pengeluaran, sedangkan aset adalah sesuatu yang mendatangkan penghasilan atau memberikan pemasukan.

Dengan menerapkan cara-cara ini Anda setidaknya bisa menjaga kualitas keuangan usaha Anda.

1. Perhitungan mendalam

Sebelum  Anda memutuskab mengambil utang, perhitungkan terlebih dulu apakah Anda memang benar membutuhkan utang. Sebesar apa biaya yang akan Anda tanggung dan kesanggupan Anda dalam memenuhi biaya tersebut. Bandingkan biaya dari utang tersebut dengan rencana pendapatan Anda. Lakukan perhitungan serealistis mungkin dengan juga memasukan semua resiko dari rencana bisnis Anda atas utang tersebut.

2. Inventaris semua utang

Satu kesalahan yang kerap menjadi boomerang bagi seorang pengusaha adalah meremehkan angka dari utang. Bicara soal mengelola utang artinya juga menghitung berapa jumlah total dari utang Anda. Anda juga perlu memilah annatar utang berbiaya besar dan utang dengan biaya kecil, utang konsumtif dan utang produktif.

3. Maksimalkan manfaat utang

Anda mengambil sebuah utang tentu saja untuk memberi manfaat bagi Anda, entah itu sekedar untuk membeli kebutuhan Anda atau untuk memodali sebuah rencana usaha. Satu yang pasti jangan sampai manfaat dari utang lebih kecil dari biaya utang, ini bisa menjadi bencana. Jika ini sudha terlanjur terjadi, cari cara untuk menutup utang, bisa menjual aset, membayar dengan utang baru yang lebih ringan atau mencari solusi peningkatan manfaat.

4. Selalu pastikan rasio keuangan Anda aman

Rasio utang adalah 50 % dari Aset dan 30 % dari pendapatan. Pastikan terus angka ini terjaga dan tidak bergeser ke angka yang lebih besar.  Segera ambil tindakan lanjutan ketika angka mengarah ke titik kritis.

Nah.. Sekarang Anda bisa menerka-nerka sendiri kan, seperti apa hutang yang bisa dijadikan sebagai asset. Jangan sampai Anda dikejar-kejar hutang dan menutup hutang dengan hutang lagi terus sampai banyak. Ingat hutanglah yang produktif. Sukses selalu untuk anda. Let’s #Beefree

Banyak Berbagi Banyak Rejeki Banyak Berbagi Banyak Rejeki

About Anggara Farhan

Graphic Designer, Video Editor, Film Making, 2D Animator, Digital Marketer, Seller, Writer, Content Creator